Berita Kemanusiaan

Bencana Sumatera Ingatkan Risiko Mematikan Jadi Relawan: Jangan Sampai Berakhir Sebagai Korban

JAKARTA,  KSRUB Foundation - Pulau Sumatera kembali berduka. Banjir dan longsor yang melanda sejak akhir November 2025 menelan 990 korban jiwa dan 222 orang hilang hingga Jumat (12/12). Rinciannya, Aceh mencatat 407 meninggal dan 31 hilang, Sumatera Utara 343 meninggal dan 98 hilang, serta Sumatera Barat 240 meninggal dan 93 hilang.


Gelombang bantuan terus mengalir ke daerah terdampak, mulai dari sembako hingga tenaga relawan. Namun, menjadi relawan di lokasi bencana bukanlah hal mudah. Infrastruktur rusak, cuaca ekstrem, keterbatasan logistik, serta ancaman keselamatan membuat setiap langkah penuh risiko.

 

Donasi Masih Terbuka, Ayo Berbagi!


Tragedi di Aceh Timur menjadi pengingat nyata. Dua relawan tewas dan lima lainnya luka-luka saat mengantar bantuan air bersih, Minggu (7/12). Mobil bak terbuka yang mereka gunakan mengalami rem blong di jalan turunan Buket Rinyen Kameng, Kecamatan Pantee Bidari, hingga terperosok ke parit. Kondisi jalan yang rawan dan cuaca buruk memperparah insiden tersebut.
Risiko juga dialami relawan asing. Lima relawan asal China yang dikerahkan ke Aceh Utara dengan peralatan khusus untuk mendeteksi jenazah pun kewalahan. Gubernur Aceh Muzakir Manaf menyebut kerja mereka belum maksimal karena medan penuh lumpur dan tumpukan kayu, meski beberapa jenazah berhasil ditemukan.


Menjadi relawan bencana tidak bisa asal nekat. Ada lima hal penting yang wajib diperhatikan:

  • Waktu dan fase penugasan 
    Apakah datang saat tanggap darurat atau fase pemulihan.
     
  • Kompetensi relawan 
    Sesuai pedoman BNPB, mulai dari pencarian-penyelamatan, logistik, dapur umum, hingga penanganan psikososial.
     
  • Waspada penyakit endemis  
    Relawan harus melakukan tindakan profilaksis sesuai kondisi daerah.
     
  • Memahami budaya setempat 
    Agar program berjalan efektif dan diterima masyarakat.
     
  • Menjaga kesehatan pribadi  
    Relawan harus tetap sehat agar tidak menjadi beban bagi tim maupun korban.
     

Selain itu, bagi mahasiswa atau pelajar yang ingin terjun, penting memiliki izin orang tua, kesiapan mental, surat tugas resmi, serta logistik pribadi. Relawan juga harus memahami potensi bencana susulan dan memiliki keterampilan bertahan hidup. 

 

Tragedi Sumatera menjadi pelajaran keras: niat tulus membantu korban bisa berakhir tragis bila relawan tidak siap. Sebelum menolong orang lain, relawan harus mampu menolong diri sendiri.

Bagikan :